Lenovo Setop Proyek Handheld G02 karena Isu ROM Ilegal

Lenovo Setop Proyek Handheld G02 karena Isu ROM Ilegal

plainviews.org  Lenovo resmi menghentikan penjualan handheld retro G02 setelah perangkat tersebut menjadi sorotan akibat dugaan penggunaan ROM game ilegal. Keputusan ini diambil setelah produk tersebut memicu kontroversi terkait distribusi ribuan game berhak cipta oleh penjual pihak ketiga. Meski Lenovo telah menarik perangkat tersebut dari kanal resminya, perangkat dengan desain serupa masih beredar di berbagai marketplace menggunakan merek yang berbeda. Kasus ini kembali menyoroti tantangan yang dihadapi industri handheld retro dalam mengendalikan distribusi perangkat dan konten digital.

“Baca Juga: RTX 5080 Bertema Game Gacha Dipamerkan NVIDIA di Bilibili World”

Lenovo Tarik G02 dari Marketplace Resmi

Berdasarkan laporan GamesRadar, Lenovo telah menghentikan penjualan G02 dan menarik perangkat tersebut dari seluruh marketplace resmi yang sebelumnya menjual produk tersebut.

Langkah tersebut dilakukan setelah muncul laporan bahwa sejumlah unit G02 dijual dengan kartu microSD berisi ribuan game retro yang diduga melanggar hak cipta. Keberadaan ROM tersebut memicu perhatian karena perangkat menggunakan nama Lenovo yang dikenal sebagai salah satu produsen teknologi global.

Penarikan produk menjadi upaya perusahaan untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap reputasi mereknya. Hingga kini, Lenovo tidak lagi menawarkan G02 melalui jalur distribusi resminya.

Keputusan tersebut juga menegaskan bahwa perusahaan ingin memisahkan produknya dari praktik distribusi konten yang tidak memiliki izin.

Lenovo Tegaskan G02 Hanya Ditujukan untuk Pasar China

Kontroversi G02 sempat menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna. Pada awalnya, banyak pihak menduga perangkat bergaya Game Boy tersebut merupakan produk tiruan yang hanya memanfaatkan nama Lenovo.

Namun, setelah dilakukan penelusuran, Lenovo mengonfirmasi bahwa G02 memang merupakan produk berlisensi yang dibuat khusus untuk pasar China. Meski demikian, perangkat tersebut tidak termasuk dalam lini produk global perusahaan.

Lenovo juga menjelaskan bahwa G02 tidak pernah dipasarkan secara resmi di luar China. Selain itu, perusahaan menegaskan bahwa perangkat yang dijual melalui jalur resmi tidak disertai kartu microSD berisi kumpulan game.

Menurut Lenovo, ROM yang diduga melanggar hak cipta ditambahkan oleh penjual pihak ketiga yang menjual perangkat tersebut ke pasar internasional tanpa keterlibatan perusahaan.

Perangkat Serupa Masih Dijual dengan Nama Berbeda

Meski Lenovo telah menghentikan penggunaan merek G02, perangkat dengan desain yang sama dilaporkan masih tersedia di sejumlah marketplace.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa perangkat tersebut dipasarkan menggunakan merek lain, seperti GUSGU H7. Produk serupa juga masih ditemukan di platform perdagangan daring, termasuk AliExpress dan marketplace lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa yang berubah hanyalah identitas merek, sementara perangkat kerasnya tetap dipasarkan oleh berbagai reseller. Kondisi tersebut membuat konsumen masih dapat menemukan produk dengan spesifikasi yang hampir identik meskipun tidak lagi menggunakan nama Lenovo.

Fenomena seperti ini cukup umum di pasar handheld retro, di mana satu desain perangkat sering dipasarkan oleh beberapa merek berbeda.

“Baca Juga: Hisense Rilis A10 dengan Dua Layar Berbeda”

Kontroversi G02 Soroti Tantangan Industri Handheld Retro

Kasus Lenovo G02 menjadi gambaran mengenai kompleksitas pasar handheld retro yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak produsen hanya memproduksi perangkat keras, sedangkan penjual pihak ketiga menambahkan kartu microSD berisi ribuan ROM sebelum menjualnya kepada konsumen.

Praktik tersebut membuat batas tanggung jawab antara produsen, pemegang lisensi, dan reseller menjadi tidak selalu jelas di mata pembeli. Ketika perangkat menggunakan nama perusahaan besar, risiko terhadap citra merek juga meningkat apabila terjadi pelanggaran hak cipta.

Bagi Lenovo, menghentikan penjualan G02 dinilai sebagai langkah yang wajar untuk melindungi reputasi perusahaan. Selama ini, Lenovo lebih dikenal melalui lini produk seperti Legion, Legion Go, serta berbagai laptop dan perangkat komputasi lainnya dibandingkan perangkat emulasi retro.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa konsumen perlu memperhatikan sumber pembelian perangkat handheld retro. Produk resmi umumnya tidak disertai koleksi ROM yang melanggar hak cipta, sementara konten ilegal sering kali ditambahkan oleh penjual independen sebelum perangkat dipasarkan. Seiring meningkatnya popularitas handheld retro, isu mengenai lisensi perangkat lunak dan distribusi game diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama di industri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *