Militer AS Pertimbangkan Rudal Dark Eagle untuk Iran

Militer AS Pertimbangkan Rudal Dark Eagle untuk Iran

•

plainviews.org – Komando Pusat Amerika Serikat dilaporkan meminta pengerahan rudal hipersonik Dark Eagle ke Timur Tengah. Permintaan tersebut muncul di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang masih berstatus gencatan senjata.

Laporan mengenai permintaan itu pertama kali disampaikan Bloomberg pekan ini. Hingga kini, belum ada keputusan resmi terkait pengerahan sistem persenjataan tersebut.

Dark Eagle dikenal sebagai Long-Range Hypersonic Weapon atau LRHW. Senjata ini dikembangkan untuk memperkuat kemampuan militer Amerika Serikat menghadapi perkembangan teknologi Rusia dan China.

“Baca Juga: Perselisihan Trump-Merz Picu Rencana Penarikan Pasukan”

Program pengembangan LRHW dimulai sejak 2018 dengan nilai anggaran mencapai USD 12 miliar. Namun, proyek tersebut mengalami berbagai keterlambatan dan belum sepenuhnya dinyatakan operasional.

Permintaan pengerahan Dark Eagle menunjukkan meningkatnya perhatian militer Amerika terhadap kawasan Timur Tengah. Situasi keamanan regional masih dipandang sensitif oleh Washington.

Dark Eagle Dikembangkan untuk Kejar Rusia dan China

Amerika Serikat mulai mempercepat pengembangan senjata hipersonik setelah Rusia dan China lebih dulu memiliki teknologi serupa. Rudal hipersonik dinilai mampu mengubah keseimbangan militer modern.

Dark Eagle dirancang memiliki kecepatan sangat tinggi dan sulit dicegat sistem pertahanan biasa. Teknologi ini menjadi bagian penting dalam perlombaan persenjataan global.

Meski begitu, pengembangan LRHW menghadapi banyak kendala teknis dan jadwal. Program tersebut disebut tertinggal dibanding target awal yang ditetapkan Pentagon.

Militer Amerika terus berupaya mempercepat kesiapan sistem tersebut di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia. Kawasan Asia dan Timur Tengah menjadi perhatian utama strategi pertahanan Washington.

Pengembangan senjata hipersonik kini menjadi fokus banyak negara besar. Teknologi ini dianggap memiliki kemampuan strategis dalam konflik modern berintensitas tinggi.

Intelijen Sebut Iran Pindahkan Peluncur Rudal Balistik

Menurut laporan Bloomberg, permintaan pengerahan Dark Eagle berkaitan dengan perkembangan terbaru di Iran. Intelijen Amerika Serikat disebut mendeteksi perpindahan peluncur rudal balistik Iran.

Peluncur tersebut dilaporkan dipindahkan ke lokasi di luar jangkauan Precision Strike Missile atau PrSM milik Amerika Serikat. Situasi itu memicu kekhawatiran di kalangan militer AS.

Sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebut belum ada keputusan akhir mengenai pengerahan LRHW. Namun, permintaan dari CENTCOM menunjukkan tingginya perhatian terhadap ancaman regional.

Iran hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut. Ketegangan antara Washington dan Teheran masih terus dipantau komunitas internasional.

Gencatan senjata yang berlaku saat ini belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik baru. Kawasan Timur Tengah tetap menjadi pusat perhatian keamanan global.

Persediaan Rudal PrSM Jadi Sorotan Pentagon

Selain Dark Eagle, laporan juga menyoroti penggunaan rudal Precision Strike Missile atau PrSM selama konflik sebelumnya dengan Iran. Rudal tersebut dirancang menggantikan sistem ATACMS yang sudah lama digunakan.

Menurut laporan, PrSM digunakan secara luas selama konflik berlangsung. Bahkan, salah satu unit Angkatan Darat Amerika disebut telah menghabiskan seluruh persediaan rudal tersebut.

Pentagon sebelumnya telah memesan ratusan unit PrSM dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jumlah rudal yang benar-benar tersedia di lapangan belum diketahui secara pasti.

Keterbatasan persediaan memunculkan kekhawatiran jika konflik dengan Iran kembali memanas. Militer Amerika diperkirakan membutuhkan pasokan tambahan untuk operasi jangka panjang.

PrSM menjadi salah satu bagian penting modernisasi sistem rudal Amerika Serikat. Pengembangan teknologi baru terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tempur jarak jauh.

“Baca Juga: Black Flag Resynced Dikabarkan Hilangkan Senjata Khas”

Serangan di Lamerd Picu Kontroversi Penggunaan Rudal

Penggunaan PrSM juga menjadi kontroversi selama konflik gabungan AS-Israel terhadap Iran. Rudal tersebut diduga terlibat dalam serangan mematikan di kota Lamerd, Iran selatan.

Menurut laporan The New York Times, serangan pada 28 Februari menargetkan sekolah dan aula olahraga. Sedikitnya 21 orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.

Pentagon membantah keterlibatan mereka dalam serangan di Lamerd. Pemerintah Amerika menyatakan tidak ada operasi yang menargetkan lokasi tersebut pada hari kejadian.

Pentagon juga mengklaim proyektil yang terlihat dalam rekaman merupakan rudal jelajah Hoveyzeh buatan Iran. Namun, sejumlah ahli yang dikutip media tetap menilai proyektil tersebut mirip dengan PrSM.

Kontroversi itu semakin menambah perhatian terhadap penggunaan sistem rudal modern dalam konflik kawasan. Perdebatan mengenai transparansi operasi militer kembali menjadi sorotan internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *