plainviews.org – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) masih terus berlanjut setelah Teheran dilaporkan menolak usulan gencatan senjata yang dibawa Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi. Penolakan tersebut terjadi ketika konflik militer antara kedua negara telah berlangsung hampir dua pekan dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Laporan mengenai penolakan itu pertama kali disampaikan oleh The New York Times dengan mengutip sejumlah pejabat Iran dan Irak yang mengetahui pembahasan tersebut. Menurut laporan itu, Ali al-Zaidi membawa usulan gencatan senjata saat melakukan kunjungan resmi ke Teheran setelah sebelumnya bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
“Baca Juga: Mahmoud Abbas Minta Dunia Hentikan Serangan di Tepi Barat”
Teheran Nilai Usulan Belum Menyentuh Pokok Perselisihan
Berdasarkan laporan tersebut, rincian usulan gencatan senjata belum diungkap secara lengkap. Namun, sejumlah pejabat Iran menggambarkan proposal itu sebagai satu-satunya tawaran yang saat ini diajukan kepada Teheran.
Pemerintah Iran memutuskan untuk menolak usulan tersebut karena dinilai tidak menyelesaikan persoalan utama yang menjadi sumber perselisihan antara kedua negara. Salah satu isu yang disebut menjadi keberatan Teheran adalah sengketa mengenai kendali atas Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Karena itu, setiap ketegangan di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap perdagangan energi internasional.
Penolakan Iran menunjukkan bahwa penyelesaian konflik masih menghadapi tantangan besar. Selama isu-isu utama belum memperoleh titik temu, peluang tercapainya kesepakatan damai diperkirakan masih cukup kecil.
Kunjungan Perdana Menteri Irak Bahas Hubungan Bilateral dan Stabilitas Kawasan
Kunjungan Ali al-Zaidi ke Teheran menjadi lawatan resmi pertamanya ke Iran sejak menjabat sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei lalu. Dalam kunjungan tersebut, ia memimpin delegasi yang terdiri dari sejumlah menteri untuk membahas berbagai agenda bilateral bersama pemerintah Iran.
Al-Zaidi bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian guna membahas hubungan kedua negara. Perkembangan situasi regional, serta langkah memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan. Menurut pejabat Iran, pembahasan juga mencakup implementasi sejumlah perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.
Kedua pemerintah turut menyampaikan komitmen untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk perdagangan, energi, transportasi, dan isu-isu regional. Selain bertemu Presiden Pezeshkian, Al-Zaidi juga dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Agenda tersebut menunjukkan bahwa kunjungan Irak tidak hanya membahas konflik yang sedang berlangsung, tetapi juga memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara.
Iran Siapkan Respons jika Konflik Meluas
The New York Times juga melaporkan bahwa para pejabat Iran tengah mempersiapkan berbagai skenario apabila konflik dengan Amerika Serikat semakin meluas. Menurut dua pejabat Iran yang dikutip media tersebut, Teheran akan memperluas respons militernya apabila Washington melanjutkan ancaman serangan terhadap ibu kota Iran maupun infrastruktur penting lainnya.
Laporan itu menyebut Iran dapat memperluas operasi militernya dengan menargetkan Tel Aviv. Selain itu, Teheran disebut berpotensi meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandab apabila konflik terus meningkat.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang mengonfirmasi skenario tersebut. Namun, laporan itu menggambarkan tingginya kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran selama 13 malam berturut-turut hingga Jumat, 24 Juli 2026.
“Baca Juga: HMD Siapkan Tampilan Muka Bergaya Lumia Tiles”
Konflik Berkepanjangan Ganggu Stabilitas Kawasan dan Pasokan Energi
Otoritas Iran sebelumnya melaporkan bahwa hingga Rabu, 22 Juli 2026, sedikitnya 53 orang tewas akibat rangkaian serangan Amerika Serikat. Selain itu, sebanyak 592 orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Eskalasi konflik meningkat tajam setelah Presiden Donald Trump pada 8 Juli menyatakan bahwa nota kesepahaman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati pada bulan sebelumnya tidak lagi berlaku. Sejak saat itu, kedua negara terus melancarkan serangan balasan terhadap berbagai sasaran.
Washington disebut memfokuskan serangan pada sejumlah lokasi di wilayah Iran. Sementara itu, Teheran mengklaim telah menyerang berbagai fasilitas serta peralatan militer Amerika Serikat di sejumlah negara di kawasan.
Konflik yang berkepanjangan juga memberikan dampak terhadap stabilitas kawasan. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami gangguan, sementara pasokan energi global menghadapi risiko yang lebih besar. Selain itu, sejumlah wilayah udara sempat ditutup secara berkala dan status kewaspadaan terhadap aset militer Amerika Serikat di luar Timur Tengah terus ditingkatkan seiring berlanjutnya ketegangan antara kedua negara.




Leave a Reply