plainviews.org – CEO Ford Motor Company Jim Farley secara terbuka mengakui ketertinggalan teknologi perusahaan yang ia pimpin. Ia menyatakan Ford tertinggal jauh dari para pesaing global, khususnya produsen kendaraan listrik asal China. Dalam beberapa aspek utama, ketertinggalan tersebut bahkan mencapai 25 tahun. Pernyataan ini muncul setelah Farley menggunakan Xiaomi SU7, sedan listrik yang ramai dibicarakan industri otomotif. Pengalaman langsung tersebut mengubah cara pandangnya terhadap peta persaingan global. Bagi Ford, pengakuan ini menjadi sinyal penting bagi arah transformasi perusahaan.
“Baca Juga: TikTok AS Dikuasai Investor Lokal, ByteDance Lepas 80% Saham”
Xiaomi SU7 dan Standar Baru Pengalaman Pengguna
Jim Farley menyebut Xiaomi sebagai “Apple dari China” karena pendekatan teknologinya yang terintegrasi. Ia terkesan dengan pengalaman pengguna Xiaomi SU7 yang dinilai sangat mulus. Mobil tersebut mampu mengenali pengemudi melalui ponsel tanpa proses pairing manual. Fitur pengenal wajah langsung menyesuaikan profil pengguna saat masuk kendaraan. Asisten AI bawaan membantu navigasi, hiburan, dan kontrol kendaraan. Dari sisi performa, SU7 mampu melesat 0–100 kilometer per jam dalam sekitar tiga detik. Farley mengatakan sensasi berkendaranya mengingatkan pada Porsche Taycan. Pernyataan ini dikutip oleh Car News China dan langsung memicu diskusi luas.
Langkah Ford Mengirim Mobil Listrik China ke Amerika
Untuk memahami kekuatan pesaing secara langsung, Farley mengambil langkah tidak lazim. Setelah kunjungan ke China tahun lalu, ia meminta tim manajemen memilih lima mobil listrik terbaik. Kendaraan tersebut dikirim ke Amerika Serikat untuk dipelajari. Jajaran pimpinan Ford bahkan menggunakannya sebagai kendaraan harian. Tujuan langkah ini adalah membuka mata internal terhadap realitas persaingan. Farley ingin evaluasi dilakukan berdasarkan pengalaman nyata, bukan asumsi lama. Pendekatan ini mencerminkan perubahan sikap manajemen puncak Ford.
Belajar dari Kesalahan Masa Lalu Industri Otomotif
Farley mengingatkan bahwa Ford pernah meremehkan Jepang dan Korea Selatan. Kesalahan serupa tidak boleh terulang terhadap China. Ia menegaskan bahwa menghormati kompetitor harus dimulai dari pimpinan tertinggi. Budaya perusahaan perlu menerima kenyataan bahwa pusat inovasi kini semakin bergeser. Produsen China menggabungkan teknologi digital, efisiensi manufaktur, dan harga kompetitif. Data industri menunjukkan merek China mendominasi penjualan EV global dalam beberapa tahun terakhir. Mereka juga unggul dalam integrasi perangkat lunak dan rantai pasok baterai.
“Baca Juga: Instagram Perluas Reels ke Layar TV dengan Aplikasi Terbaru”
Alarm Transformasi dan Tantangan Masa Depan Ford
Pengakuan ketertinggalan Ford diperkuat oleh perekrutan Doug Field. Field merupakan mantan insinyur utama Tesla Model 3 dan eks anggota proyek mobil Apple. Evaluasi internal menemukan kesenjangan besar dalam teknologi EV dan digitalisasi pabrik. Bagi Ford, kondisi ini menjadi alarm keras untuk berbenah. Transformasi menyeluruh dinilai sebagai satu-satunya jalan bertahan di era elektrifikasi. Ford harus mempercepat inovasi perangkat lunak, desain baterai, dan manufaktur cerdas. Persaingan global kini tidak lagi hanya soal mesin, tetapi ekosistem teknologi. Ke depan, keberhasilan Ford akan ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan belajar dan beradaptasi.




Leave a Reply